Artikel

Peran PT Amman Dalam Mewujudkan Sekolah Adiwiyata Nasional di Kabupaten Sumbawa Barat

Oleh: Bambang Supriadi (Pemerhati Lingkungan)

Isu kerusakan lingkungan, perubahan iklim, dan menurunnya kualitas kesehatan masyarakat menjadi tantangan nyata yang dihadapi bangsa Indonesia hari ini. Persoalan tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau dunia usaha semata, tetapi juga memerlukan peran aktif masyarakat sipil melalui berbagai organisasi non-pemerintah (NGO) lingkungan. Sekolah sebagai ruang strategis pembentukan karakter generasi muda menjadi titik temu penting dari seluruh upaya tersebut.

Program Sekolah Adiwiyata hadir sebagai salah satu instrumen untuk menanamkan nilai kepedulian dan tanggung jawab lingkungan sejak dini. Namun keberhasilan program ini sangat ditentukan oleh kolaborasi multipihak. Di Kabupaten Sumbawa Barat, kolaborasi tersebut tumbuh melalui sinergi antara pemerintah daerah, dunia usaha, serta NGO dan komunitas lingkungan yang konsisten melakukan pendampingan di tingkat akar rumput.

Salah satu peran penting dalam ekosistem ini dijalankan oleh Komunitas Hijau Biru (KHB), sebuah komunitas lingkungan yang aktif mengedukasi, mendampingi, dan menggerakkan masyarakat, termasuk sekolah dalam isu pengelolaan sampah, kebersihan lingkungan, dan perubahan perilaku menuju ramah lingkungan. Kehadiran KHB memperkuat dimensi partisipatif dan edukatif Program Adiwiyata, sekaligus menjembatani sekolah dengan praktik nyata pengelolaan lingkungan di masyarakat.

Di Kabupaten Sumbawa Barat, semangat menuju sekolah berbudaya lingkungan mulai tumbuh dan berkembang. Sejumlah sekolah menunjukkan minat dan komitmen untuk mengikuti Program Adiwiyata sebagai bagian dari ikhtiar membangun generasi yang peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungan. Dukungan Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa Barat serta keterlibatan dunia usaha, khususnya PT Amman Mineral Nusa Tenggara (PT Amman), menjadi modal penting dalam mewujudkan sekolah Adiwiyata hingga tingkat nasional.

Puncaknya, pada 11 Desember 2025, SMPN 1 Maluk dan SDN 2 Seteluk menerima Penghargaan Adiwiyata Nasional di Jakarta. Prestasi ini menjadi tonggak sejarah penting bagi Kabupaten Sumbawa Barat, karena merupakan capaian pertama setelah hampir 20 tahun penantian.

Namun demikian, capaian tersebut juga memperlihatkan realitas lain, di mana minat sekolah untuk mengikuti Program Adiwiyata masih relatif rendah. Minimnya jumlah Sekolah Adiwiyata berpengaruh pada kurangnya gaung dan eksposur program ini, tidak hanya di Kabupaten Sumbawa Barat tetapi juga di Nusa Tenggara Barat. Kondisi ini berbeda dengan sejumlah provinsi di Pulau Jawa yang dikenal sebagai “gudang” Sekolah Adiwiyata. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila PT Amman Mineral Nusa Tenggara (PT Amman) menjadikan Pulau Jawa sebagai rujukan studi banding Sekolah Adiwiyata.

Sekolah Adiwiyata adalah sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan hidup. Program ini merupakan inisiatif nasional yang diluncurkan oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup pada tahun 2006, kemudian diperkuat melalui kolaborasi dengan Kementerian Pendidikan dan Kementerian Agama. Istilah Adiwiyata berasal dari bahasa Sanskerta, yang berarti tempat yang baik dan ideal untuk memperoleh ilmu pengetahuan, norma, dan etika dalam kehidupan bermasyarakat.

Tujuan utama Program Adiwiyata adalah membentuk warga sekolah yang bertanggung jawab dalam upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup melalui tata kelola sekolah yang baik. Seiring perjalanannya, Adiwiyata berkembang tidak hanya sebagai program penghargaan, tetapi sebagai instrumen perubahan perilaku dan budaya.

Dalam implementasinya, Program Adiwiyata dibangun di atas empat komponen utama, yaitu: (1) kebijakan sekolah yang berwawasan lingkungan, (2) pelaksanaan kurikulum berbasis lingkungan hidup, (3) kegiatan lingkungan berbasis partisipatif, dan (4) pengelolaan sarana dan prasarana pendukung yang ramah lingkungan. Keempat komponen ini saling terkait dan harus dijalankan secara utuh dan berkelanjutan.

Seiring dinamika kebijakan nasional, Program Adiwiyata kemudian bertransformasi dan diperkuat menjadi bagian dari Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah (PBLHS). Gerakan PBLHS menempatkan Adiwiyata bukan lagi sekadar program, melainkan sebuah gerakan nasional yang menekankan pada aksi kolektif secara sadar, sukarela, berjejaring, dan berkelanjutan yang dilakukan oleh sekolah dalam menerapkan Perilaku Ramah Lingkungan Hidup (PRLH). Dengan pendekatan gerakan, PBLHS mendorong keterlibatan aktif seluruh warga sekolah serta sinergi dengan orang tua, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya dalam tahapan perencanaan, pelaksanaan serta pemantauan dan evaluasi pelaksanaan Gerakan PBLHS.

Melalui PBLHS, sekolah diharapkan menjadi agen perubahan yang mampu menularkan praktik-praktik ramah lingkungan ke lingkungan keluarga dan komunitas sekitar, sehingga dampaknya semakin luas, berjejaring dan berkelanjutan.

Jumlah sekolah Adiwiyata di Kabupaten Sumbawa Barat masih sangat sedikit, dengan rincian Adiwiyata kabupaten 20 sekolah, Adiwiyata provinsi 8 sekolah dan Adiwiyata nasional 2 sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa minta sekolah mengikuti Program Adiwiyata sangat rendah.

Rendah minat sekolah mengikuti Program Adiwiya semakin jelas terlihat di tahun 2025, di mana dari 30 sekolah yang mendapatkan undangan untuk pembinaan dan penilaian dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sumbawa Barat, hanya 10 sekolah yang bersedia. Setelah melalui proses pembinaan dan penilaian hanya 7 sekolah yang berhasil mendapatkan penghargaan sekolah adiwiyata Kabupaten Sumbawa Barat tahun 2025.

Beberapa faktor yang memengaruhi rendahnya minat sekolah antara lain keterbatasan pemahaman tentang konsep Adiwiyata, beban administrasi yang dianggap berat, keterbatasan anggaran, minimnya sumber daya manusia dan komitmen internal, serta belum dijadikannya Adiwiyata sebagai prioritas kebijakan sekolah. Selain itu, pembinaan dan pendampingan yang belum optimal, anggapan bahwa hasil Adiwiyata tidak langsung terlihat, serta kurangnya sinergi dengan pihak luar turut menjadi faktor penghambat. Padahal, Sekolah Adiwiyata memiliki peran yang sangat strategis dalam mendukung berbagai program pemerintah di bidang lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan.

Sekolah Adiwiyata memiliki posisi strategis dalam mendukung berbagai target dan program pemerintah di bidang lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan. Sekolah menjadi unit sosial yang efektif dalam membangun kesadaran, perubahan perilaku, dan praktik nyata pengelolaan lingkungan, khususnya di tingkat tapak.

Dalam konteks peningkatan kualitas lingkungan, keberadaan Sekolah Adiwiyata berkontribusi langsung terhadap peningkatan kinerja pengelolaan sampah. Melalui kebijakan sekolah, pembiasaan pemilahan sampah, pengurangan plastik sekali pakai, serta pengolahan sampah organik dan anorganik, sekolah membantu mengurangi timbulan sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.

Sekolah Adiwiyata juga sejalan dengan agenda Indonesia Bersih 2029 yang menekankan pengelolaan sampah dari sumber. Sekolah berperan sebagai laboratorium sosial untuk membangun praktik pengurangan, penggunaan ulang, dan daur ulang (3R) yang kemudian ditularkan ke keluarga peserta didik dan masyarakat sekitar.

Selain itu, Program Adiwiyata berkontribusi terhadap capaian Penghargaan Adipura, khususnya pada indikator prasarana dan sarana perkotaan, dan Adipura Kencana dalam mendukung indikator sosial dan ekonomi. Sekolah Adiwiyata menjadi simpul partisipasi publik yang memperkuat budaya bersih dan tertib lingkungan di wilayahnya.

Program Adiwiyata juga selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals / SDGs), utamanya pada aspek pendidikan berkualitas (4), Air Bersih dan Sanitasi Layak (6), Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan (11), Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab (12), Penanganan Perubahan Iklim (13), Ekosistem Lautan (14), dan Ekosistem Daratan (15). Oleh karena itu, penguatan Sekolah Adiwiyata pada hakikatnya merupakan bagian integral dari strategi pemerintah dalam mencapai target pembangunan lingkungan hidup di tingkat nasional maupun daerah. Investasi pada sekolah berarti menyiapkan generasi yang memiliki kesadaran, pengetahuan, dan PRLH, sekaligus menjadi langkah strategis untuk mempercepat capaian berbagai program pembangunan secara berkelanjutan.

Kabupaten Sumbawa Barat memiliki potensi besar untuk melahirkan Sekolah Adiwiyata Nasional. Dari sisi sumber daya alam, Kabupaten Sumbawa Barat dianugerahi lingkungan yang relatif masih asri, yang dapat dijadikan media pembelajaran kontekstual. Dari sisi sosial, kearifan lokal masyarakat Sumbawa yang menjunjung nilai kebersamaan dan gotong royong sangat sejalan dengan semangat Adiwiyata.

Di tingkat sekolah, potensi ditunjukkan melalui adanya guru-guru yang inovatif, siswa yang antusias, serta dukungan orang tua. Beberapa sekolah telah memulai langkah awal seperti pemilahan sampah, pembuatan kompos, kebun sekolah, bank sampah, hingga integrasi isu lingkungan dalam pembelajaran.

Potensi lain yang tidak kalah penting adalah komitmen pemerintah daerah dan kemitraan dengan dunia usaha dan NGO. Dengan pendampingan yang konsisten, penguatan kapasitas sekolah, serta dukungan sarana dan prasarana, sekolah-sekolah di Kabupaten Sumbawa Barat memiliki peluang besar untuk memenuhi kriteria Adiwiyata Nasional secara berkelanjutan.

Kebijakan Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa Barat memberikan ruang yang luas bagi sekolah untuk berinovasi dan berkreasi melalui dukungan produk hukum, yaitu Peraturan Bupati Sumbawa Barat Nomor 108 Tahun 2018 tentang Pengelolaan, Pemanfaatan Sampah dan Pendidikan Berwawasan Lingkungan di Satuan Pendidikan. Regulasi ini menjadi landasan penting dalam penguatan peran sekolah sebagai agen perubahan lingkungan.

Dukungan kebijakan tersebut merupakan potensi strategis yang dapat mendorong sekolah menuju Sekolah Adiwiyata Nasional, terutama jika diintegrasikan dengan praktik terbaik dan pembelajaran berkelanjutan. PPSS juga dapat menjadi pendorong sekaligus model dalam penyiapan sekolah Adiwiyata, karena menekankan pembiasaan, partisipasi warga sekolah, serta pengelolaan sampah yang terukur, sistematis, menyeluruh dan berkelanjutan. Selain itu, Buku 20 Tahun CUD Amman dapat dijadikan rujukan dan sumber inspirasi dalam pengembangan program lingkungan sekolah yang kontekstual, kolaboratif, dan berkelanjutan.

Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa Barat memegang peran kunci dalam pengembangan Program Adiwiyata. Melalui kebijakan, fasilitasi, dan koordinasi lintas sektor, pemerintah daerah dapat menciptakan ekosistem yang kondusif bagi tumbuhnya sekolah berbudaya lingkungan.

Peran tersebut antara lain diwujudkan melalui pembinaan teknis oleh dinas terkait, seperti Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Pendidikan. Pemerintah daerah juga berperan dalam penyusunan regulasi, penyediaan anggaran pendukung, serta pelaksanaan monitoring dan evaluasi. Tidak kalah penting, pemerintah daerah dapat menjadi jembatan kemitraan antara sekolah dan dunia usaha dan NGO lingkungan.

Komitmen pemerintah daerah yang kuat akan memberikan sinyal positif kepada sekolah bahwa Program Adiwiyata adalah agenda bersama, bukan beban tambahan. Dengan demikian, sekolah akan lebih percaya diri dan konsisten dalam menjalankan program.

Kehadiran PT Amman sebagai salah satu pelaku usaha strategis di Kabupaten Sumbawa Barat memiliki arti penting dalam mendukung penguatan Gerakan PBLHS dan Program Adiwiyata. Komitmen ini tidak hadir secara instan, tetapi dibangun melalui perjalanan panjang praktik pengelolaan lingkungan yang konsisten.

Komitmen tersebut antara lain terekam dalam buku “20 Tahun Clean Up Day Amman” yang mendokumentasikan praktik terbaik, pembelajaran, serta konsistensi PT Amman dalam mendorong budaya bersih dan peduli lingkungan bersama siswa dan masyarakat. Clean Up Day tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan seremonial, tetapi sebagai gerakan kolektif yang menumbuhkan kesadaran, partisipasi, dan tanggung jawab lingkungan lintas generasi.

Nilai-nilai yang diusung dalam Clean Up Day Amman seperti partisipasi aktif, edukasi berkelanjutan, dan kolaborasi multipihak sangat sejalan dengan semangat Adiwiyata dan Gerakan PBLHS. Pengalaman panjang ini menjadi modal sosial dan pengetahuan yang relevan ketika PT Amman terlibat dalam penguatan pendidikan lingkungan di sekolah.

Sejak awal, PT Amman menunjukkan ketertarikan yang kuat terhadap Program Adiwiyata. Komitmen tersebut tercermin melalui berbagai bentuk dukungan, antara lain pemberian apresiasi kepada siswa bergelar Pangeran dan Putri Lingkungan beserta guru pembimbingnya, yang merupakan bagian dari program Clean Up Day PT Amman, untuk melakukan studi banding ke Yayasan Tunas Hijau di Surabaya dan Sekolah Adiwiyata Nasional di Pulau Jawa sejak tahun 2005. Selain itu, PT Amman juga memfasilitasi kunjungan siswa Pangeran dan Putri Lingkungan beserta pembimbingnya dari Surabaya ke Kabupaten Sumbawa Barat sebagai bagian dari pertukaran pembelajaran dan penguatan jejaring.

Tidak hanya menyasar siswa, penguatan kapasitas juga diberikan kepada para guru di Kabupaten Sumbawa Barat melalui pelatihan dengan menghadirkan instruktur sekaligus tim penilai Sekolah Adiwiyata Nasional, Ibu Aulija Esti Wijiasih, yang dilaksanakan pada tanggal 27–30 Maret 2009.

Pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan oleh PT AMMAN tersebut membuahkan hasil. Pada tahun 2009, SMPN 6 Taliwang bersama SDN 1 Taliwang dan SMAN 1 Taliwang berhasil meraih penghargaan Sekolah Adiwiyata Provinsi Nusa Tenggara Barat, yang ditetapkan melalui Keputusan Gubernur Nusa Tenggara Barat Nomor 522-714 Tahun 2019 tentang Penetapan Sekolah Peduli dan Berbudaya Lingkungan Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun 2019.

Selanjutnya SMPN 6 Taliwang meraih penghargaan Sekolah Adiwiyata Provinsi Nusa Tenggara Barat untuk kedua kalinya pada tahun 2023. Pada tahun yang sama, SMPN 1 Maluk dan SMPN 3 Taliwang juga berhasil memperoleh penghargaan Sekolah Adiwiyata Provinsi Nusa Tenggara Barat. Capaian tersebut merupakan kelanjutan dari prestasi sebelumnya, di mana SMPN 1 Maluk dan SMPN 3 Taliwang telah ditetapkan sebagai Sekolah Adiwiyata Kabupaten Sumbawa Barat pada tahun 2022.

Puncaknya, pada tahun 2025, SMPN 1 Maluk bersama SDN 2 Seteluk berhasil meraih penghargaan Sekolah Adiwiyata Nasional. Prestasi ini menjadi tonggak sejarah penting bagi Kabupaten Sumbawa Barat, karena merupakan capaian Sekolah Adiwiyata Nasional pertama setelah penantian yang sangat panjang, hampir dua dekade.

Selamat kepada SMPN 1 Maluk dan SDN 2 Seteluk. Semoga capaian ini menjadi pemantik semangat untuk terus bergerak secara berkelanjutan dalam menerapkan PRLH dalam Gerakan PBLHS, sekaligus menjadi inspirasi dan motivasi bagi sekolah-sekolah lain di Kabupaten Sumbawa Barat yang memiliki potensi serupa.

Terwujudnya Sekolah Adiwiyata Nasional tidak lepas dari kontribusi konkret PT Amman di bidang pendidikan lingkungan yang berkelanjutan hingga saat ini. PT Amman mengembangkan Program Pengelolaan Sampah di Sekolah (PPSS) yang terbukti memberikan dampak signifikan dalam mendukung pencapaian target pengurangan dan penanganan sampah di lingkungan sekolah.

PPSS dirancang untuk meningkatkan kapasitas sekolah dalam mengelola sampah secara sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan melalui penerapan prinsip 3R (Reduce, Reuse, dan Recycle). Implementasi program ini mencakup seluruh tahapan pengelolaan sampah, mulai dari pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, pengolahan, hingga pemrosesan akhir. Dengan pendekatan tersebut, PPSS menjadi pintu masuk yang relevan dan strategis dalam membangun budaya peduli lingkungan di sekolah.

Program PPSS yang disponsori PT Amman juga sangat selaras dengan prinsip dan komponen Program Adiwiyata maupun Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah (PBLHS). Pengelolaan sampah yang baik berkontribusi langsung terhadap kebijakan sekolah berwawasan lingkungan, penguatan kegiatan partisipatif warga sekolah, serta pengelolaan sarana dan prasarana ramah lingkungan. Oleh karena itu, PPSS berperan sebagai akselerator penting dalam mewujudkan Sekolah Adiwiyata, bahkan hingga tingkat nasional.

Kemitraan antara PT Amman, pemerintah daerah, dan sekolah melalui PPSS, yang berangkat dari pengalaman panjang Clean Up Day Amman mencerminkan praktik kolaborasi multipihak yang efektif. Sekolah memperoleh dukungan berkelanjutan, perusahaan menjalankan tanggung jawab sosialnya secara strategis, sementara daerah memperoleh manfaat berupa peningkatan kualitas lingkungan serta penguatan karakter generasi muda.

Melalui PPSS, sekolah tidak hanya didukung dari sisi sarana dan prasarana, seperti penyediaan fasilitas pengolahan sampah organik berupa rumah kompos dan sarana pendukung lainnya, tetapi juga memperoleh pendampingan, pelatihan, serta penguatan kelembagaan. Guru dan siswa didorong untuk memahami persoalan sampah secara utuh dan terlibat aktif dalam solusi nyata di lingkungan sekolah, sehingga pendidikan lingkungan hidup tidak berhenti pada tataran konsep, tetapi terwujud dalam praktik sehari-hari.

Kendala dalam Mewujudkan Sekolah Adiwiyata Nasional

Meski memiliki potensi besar, perjalanan menuju Adiwiyata Nasional tidak lepas dari berbagai kendala. Salah satu kendala utama adalah keterbatasan pemahaman sebagian warga sekolah tentang konsep Adiwiyata yang komprehensif. Program ini masih sering dipersepsikan sebatas kebersihan fisik.

Kendala lain adalah keterbatasan anggaran dan sarana pendukung, terutama bagi sekolah-sekolah di wilayah terpencil. Selain itu, keberlanjutan program sering terhambat oleh pergantian kepala sekolah atau guru penggerak, sehingga komitmen dan konsistensi program menurun.
Faktor waktu dan beban administrasi juga menjadi tantangan tersendiri. Guru sering kali merasa kewalahan membagi waktu antara tugas pembelajaran dan kegiatan Adiwiyata.

Untuk mengatasi berbagai kendala dalam mewujudkan Sekolah Adiwiyata Nasional, diperlukan strategi yang terencana, sistematis, dan berkelanjutan. Langkah awal yang penting adalah penguatan kapasitas warga sekolah melalui pelatihan dan pendampingan yang berkesinambungan. Pelatihan tidak hanya berfokus pada pemenuhan administrasi Adiwiyata, tetapi juga pada pemahaman substansi program, mulai dari kebijakan sekolah berwawasan lingkungan, pembelajaran kontekstual, hingga pengelolaan lingkungan berbasis partisipasi. Pendampingan yang konsisten akan membantu sekolah menerjemahkan konsep Adiwiyata ke dalam praktik nyata sesuai dengan kondisi dan potensi masing-masing sekolah.

Selanjutnya, integrasi Program Adiwiyata ke dalam kurikulum dan budaya sekolah menjadi kunci utama keberlanjutan. Adiwiyata perlu diinternalisasikan dalam visi, misi, serta perencanaan sekolah, sekaligus diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran lintas mata pelajaran. Melalui pendekatan ini, nilai-nilai kepedulian lingkungan tidak diposisikan sebagai kegiatan tambahan, tetapi menjadi bagian dari kebiasaan dan karakter warga sekolah dalam aktivitas belajar mengajar sehari-hari.

Strategi berikutnya adalah penguatan kelembagaan dan sistem di tingkat sekolah. Pembentukan tim Adiwiyata yang solid, pembagian peran yang jelas, serta sistem dokumentasi yang sederhana dan efisien akan menjaga kesinambungan program meskipun terjadi pergantian kepala sekolah atau guru penggerak. Dengan sistem yang kuat, komitmen dan konsistensi pelaksanaan Adiwiyata dapat terus terjaga.

Selain itu, penguatan kemitraan dengan pemerintah daerah, dunia usaha, dan komunitas lingkungan perlu terus dikembangkan. Skema kolaborasi yang jelas dan berkelanjutan memungkinkan sekolah memperoleh dukungan sumber daya, pendampingan teknis, serta akses jejaring pembelajaran yang lebih luas. Kemitraan ini juga berperan sebagai akselerator dalam meningkatkan kualitas implementasi Adiwiyata dan mendorong sekolah untuk melangkah ke tingkat nasional.

Dengan penerapan strategi tersebut secara konsisten, Sekolah Adiwiyata tidak hanya mampu bertahan sebagai program, tetapi berkembang menjadi gerakan berkelanjutan yang membentuk karakter generasi peduli lingkungan dan mendukung pembangunan berwawasan lingkungan hidup.

Sekolah Adiwiyata adalah investasi jangka panjang dalam membangun peradaban yang berwawasan lingkungan. Kabupaten Sumbawa Barat memiliki peluang besar untuk melahirkan lebih banyak Sekolah Adiwiyata Nasional yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga berkarakter.

Dengan sinergi antara sekolah, pemerintah daerah, dan dunia usaha seperti PT Amman, mimpi mewujudkan Sekolah Adiwiyata Nasional bukanlah sesuatu yang utopis. Ia adalah proses yang menuntut komitmen, konsistensi, dan kolaborasi. Sekolah menjadi ruang strategis bagi tumbuhnya upaya sadar dan kolektif untuk menghadirkan kembali nilai-nilai kelestarian lingkungan melalui tindakan nyata, pendidikan, serta perubahan perilaku. Dari sekolah, kita menjemput hijau untuk masa depan yang lebih lestari.

Related posts

Belajar Mengurangi Sampah dari Sekolah, Bukan dari TPA (1)

TIm Redaksi

Sekolah, Sampah dan Jalan Sunyi Pengurangan dari Hulu

TIm Redaksi

Leave a Comment