Berita Terkini

Bakesbangpol KSB Gelar Seminar Parenting Deteksi Dini Radikalisme pada Anak

Sumbawa Barat, LENTERA NTB – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) menggelar Seminar Parenting bertajuk “Deteksi Dini Radikalisme pada Anak” di Aula Kantor Camat Seteluk, Rabu, 19 November 2025.

Kegiatan ini menjadi ruang edukasi penting bagi masyarakat dalam memperkuat ketahanan keluarga terhadap ancaman radikalisme yang kian berkembang di era digital.

Lebih dari 150 peserta hadir dalam kegiatan ini, terdiri dari tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh perempuan, tokoh pemuda, serta para orang tua muda.

Kehadiran beragam unsur masyarakat tersebut menunjukkan pentingnya kolaborasi dalam menjaga stabilitas wilayah dan melindungi generasi muda dari pengaruh ideologi yang bertentangan dengan nilai kebangsaan.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Bakesbangpol KSB, Syaifullah, S.IP, yang hadir bersama Sekretaris Camat Seteluk serta sejumlah tokoh masyarakat.

Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa pencegahan radikalisme membutuhkan keterlibatan semua pihak, bukan hanya pemerintah dan aparat keamanan.

Menurutnya, anak-anak saat ini berada dalam arus informasi digital yang sangat cepat, sehingga rentan mengakses konten yang tidak sesuai dengan nilai kebangsaan.

Karena itu, keluarga memegang peran paling penting dalam melakukan pengawasan dan deteksi dini terhadap perubahan perilaku anak.

“Upaya ini merupakan bentuk ikhtiar Pemerintah Daerah Sumbawa Barat untuk meningkatkan literasi, kewaspadaan, dan ketahanan masyarakat terhadap paham radikal yang berkembang melalui media sosial,” tegasnya.

Ia berharap peserta seminar dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh dan menjadi agen pencegahan di lingkungan masing-masing. “Kita ingin masyarakat memiliki pemahaman yang lebih kuat dan mampu mengambil peran aktif menjaga generasi muda dari ancaman radikalisme,” ujarnya.

Seminar berlangsung dinamis melalui sesi diskusi interaktif, tanya jawab, serta berbagi pengalaman antarpeserta. Materi berfokus pada strategi pengasuhan, tanda-tanda awal radikalisme, serta pentingnya komunikasi efektif antara orang tua dan anak.

Dua pemantik utama turut memberikan pemahaman mendalam. Pada sesi pertama, Ipda Irwansyah yang juga Kabid Kewaspadaan Densus 88 antiteror memaparkan ancaman radikalisme, ekstremisme, dan terorisme di lingkungan keluarga dan sekolah.

Menurutnya, intoleransi sering kali menjadi pintu masuk bagi anak-anak terpapar ideologi radikal, terutama dalam ruang digital.

Ia menilai kurangnya kemampuan mengelola emosi dapat mendorong anak berperilaku ekstrem. Karena itu, pendekatan persuasif dan empatik perlu dikedepankan dalam membina generasi muda agar terhindar dari pengaruh radikal.

Pemateri kedua, Yosi Ariana, menyoroti aspek psikologis dalam proses deteksi dini. Perempuan yang berprofesi sebagai psikolog itu menjelaskan sejumlah indikator perubahan perilaku anak yang harus diperhatikan orang tua, seperti perubahan pola interaksi, kebiasaan digital, hingga sikap yang tidak biasa dalam kehidupan sehari-hari.

Ia menekankan pentingnya pendidikan keluarga yang konsisten, komunikasi yang sehat, serta pengawasan yang berkelanjutan untuk memperkuat ketahanan mental anak terhadap ideologi berbahaya. (Haris)

Related posts

KKJ NTB Desak Polisi Gunakan UU Pers untuk Pidanakan Oknum LSM

TIm Redaksi

Distribusi Kartu Sumbawa Barat Maju Diperluas hingga ke Tingkat Desa

TIm Redaksi

Babak Baru, Kasus Combine Pokir DPRD KSB Naik ke Tahap Penyidikan

TIm Redaksi

Leave a Comment