Berita Terkini

Lima Bulan Berjalan, Program Kartu KSB Maju Kesehatan Tembus Panggung Nasional

Sumbawa Barat, Lentera NTB — Baru lima bulan berjalan, Program Kartu Sumbawa Barat Maju (KSB Maju) Layanan Kesehatan berhasil menembus panggung nasional. Program inovatif yang digagas Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) itu, kini menjadi contoh praktik baik (best practice) dalam penguatan sistem kesehatan daerah.

Prestasi tersebut ditandai dengan kehadiran Bupati Sumbawa Barat, H. Amar Nurmansyah, ST., M.Si., sebagai salah satu pemateri utama dalam Pertemuan Nasional Monitoring dan Evaluasi Program RSSH GF-ATM, di Hotel Lorin Dwangsa, Solo, Rabu, 22 Oktober 2025.

Forum bergengsi yang mengangkat tema “Penguatan Perencanaan dan Pembiayaan Daerah Menuju Ending AIDS, Tuberculosis, dan Malaria” ini dihadiri oleh para kepala dinas kesehatan provinsi dan kabupaten/kota se-Indonesia, sekretaris daerah, kepala dinas pemberdayaan masyarakat, pengurus pusat Adinkes, serta perwakilan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Dalam forum tersebut, Bupati Amar membawakan materi bertajuk “Strategi Kolaboratif Daerah: Pembelajaran dari Penanggulangan AIDS, TBC, dan Malaria di Kabupaten Sumbawa Barat.” Ia memaparkan berbagai strategi kolaboratif yang telah diterapkan daerahnya untuk memperkuat ketahanan kesehatan masyarakat melalui sinergi lintas sektor dan pelibatan masyarakat secara aktif.

“Untuk menanggulangi persoalan AIDS, TBC, dan Malaria, kami tidak bisa bekerja sendiri. Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat membangun kolaborasi dengan berbagai pihak — mulai dari Baznas KSB, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), hingga seluruh perangkat daerah lintas sektor,” ujar Bupati Amar dalam paparannya.

Menurutnya, wilayah lingkar tambang merupakan area yang paling berpotensi munculnya kasus ATM, karena memiliki dinamika sosial yang cepat akibat arus masuk tenaga kerja dari berbagai daerah. Oleh sebab itu, pemerintah daerah menggandeng PT AMMAN untuk berperan aktif dalam pencegahan dan penanganan di kawasan tersebut.

Namun, tantangan terbesar bukan hanya pada faktor geografis, melainkan juga pada budaya masyarakat yang masih enggan dilakukan tracing (penelusuran kasus). Banyak warga masih merasa takut atau malu ketika menjadi sasaran pemeriksaan. Untuk menjawab tantangan itu, Pemkab Sumbawa Barat melahirkan dua inovasi besar yang kini menjadi perhatian nasional.

Inovasi Pertama: Pemberdayaan Agen Gotong Royong (AGR) Berbasis Posyandu

Inovasi ini lahir dari semangat gotong royong sebagai nilai dasar pembangunan sosial di Sumbawa Barat. Pemerintah daerah membentuk 700 Agen Gotong Royong (AGR) yang tersebar di seluruh desa dan kelurahan, dan diintegrasikan dalam sistem pelayanan Posyandu.

Agen Gotong Royong bukan tenaga medis, tetapi warga lokal yang diberdayakan untuk menjadi perpanjangan tangan pemerintah dalam mengedukasi, mendampingi, sekaligus melakukan pelacakan kasus di masyarakat. Mereka dilatih untuk memahami gejala penyakit, mengedukasi warga tentang pencegahan, dan melaporkan kondisi lapangan kepada tenaga kesehatan setempat.

“Pendekatan yang dilakukan para agen bukan dengan instruksi, melainkan dengan silaturahmi dan kekeluargaan. Karena berasal dari lingkungan yang sama, masyarakat lebih terbuka dan tidak merasa takut,” jelas Bupati Amar.

Para agen ini bekerja berdasarkan payung hukum Peraturan Daerah tentang Pemberdayaan Gotong Royong (PDPGR). Mereka juga terlibat dalam mendukung berbagai program prioritas daerah, mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga penanganan sosial. Pendekatan berbasis komunitas ini terbukti efektif menjembatani kesenjangan antara tenaga kesehatan formal dan masyarakat akar rumput.

Inovasi Kedua: Program Kartu Sumbawa Barat Maju (KSB Maju) Layanan Kesehatan dan Tim Reaksi Cepat (TRC)

Inovasi kedua menjadi tonggak penting dalam digitalisasi pelayanan kesehatan daerah. Melalui Kartu Sumbawa Barat Maju, masyarakat memperoleh satu kartu terpadu yang menghubungkan berbagai layanan publik, termasuk layanan kesehatan, bantuan sosial, dan data kependudukan.

Dalam sektor kesehatan, kartu ini diintegrasikan dengan Tim Reaksi Cepat (TRC) Ambulans di setiap puskesmas. Tim ini berfungsi memberikan pendampingan homecare, respon cepat untuk kegawatdaruratan, serta melakukan tracing dan testing dini terhadap warga yang berpotensi terpapar penyakit menular seperti AIDS, TBC, dan malaria.

Dengan sistem data terintegrasi, pemerintah dapat memantau kondisi kesehatan warga secara real time. Ketika ada laporan warga sakit, tim kesehatan bergerak cepat melakukan pemeriksaan dan intervensi. Program ini juga memastikan tidak ada masyarakat yang luput dari pelayanan kesehatan dasar.

> “Kartu KSB Maju bukan sekadar kartu identitas pelayanan, tetapi sistem yang mengintegrasikan data, aksi, dan intervensi. Melalui sistem ini, kami memastikan setiap warga mendapat layanan cepat, tepat, dan menyeluruh,” tegas Bupati Amar.

Sesi diskusi dalam forum nasional berlangsung dinamis. Para peserta tertarik mendalami mekanisme kerja Agen Gotong Royong, sumber pendanaan, dan regulasi pendukung yang memungkinkan program tersebut berjalan efektif. Beberapa kepala daerah bahkan menyatakan siap menerapkan model serupa di daerah masing-masing dan berencana melakukan kunjungan studi tiru ke Sumbawa Barat.

Dalam penutupannya, Bupati Amar menegaskan bahwa keberhasilan program ini tidak hanya ditentukan oleh inovasi, tetapi juga oleh komitmen dan konsistensi kebijakan.

“Insya Allah, dengan regulasi yang tepat, kita bisa mempertahankan komitmen menanggulangi AIDS, TBC, dan Malaria. Kuncinya ada pada penguasaan data dan pendekatan persuasif. Kabupaten Sumbawa Barat sudah memiliki sistem data terintegrasi (DTSEN) yang menjadi dasar pelaksanaan Kartu KSB Maju, satu kartu dengan berbagai layanan berbasis elektronik,” pungkasnya. (Dn)

Related posts

Rachmat Hidayat Ingatkan Kader PDIP: Jangan Barter Diri dengan Materi

TIm Redaksi

Babak Baru, Kasus Combine Pokir DPRD KSB Naik ke Tahap Penyidikan

TIm Redaksi

71 Santri dan Siswa dari Dua Sekolah di Brang Rea Diduga Keracunan MBG

TIm Redaksi

Leave a Comment